Matilah kau, Chan Kap Luk! Wkwkwk..
JAKARTA, KOMPAS.com — Tim verifikasi independen menemukan dugaan kuat bahwa David Hartanto Widjaja, mahasiswa Indonesia yang meninggal di Singapura, tewas dibunuh. Tim yang diketuai blogger Iwan Piliang ini menyimpulkan hal itu dari hasil rekonstruksi tim, bukti-bukti tertulis, dan hasil otopsi yang diterima pihak keluarga.
“Hasil otopsi membuktikan bahwa ditemukan 36 luka, 14 di antaranya luka karena pisau, umumnya di bagian tangan, sisanya luka memar termasuk di bagian leher dan luka dalam,” jelas Iwan Piliang kepada wartawan saat jumpa pers di restoran Munik, Matraman, Jakarta, Senin (13/4).
Iwan menjelaskan, hasil otopsi dari pihak kepolisian justru diberikan kepada pihak kampus Nanyang Technology University (NTU) sebelum diberikan kepada keluarga. Padahal, seharusnya hasil otopsi pihak Kepolisian Singapura diberikan kepada pihak keluarga melalui KBRI di Singapura. Hasil otopsi memang sudah dikirimkan kepada pihak keluarga melalui kiriman paket 3 April lalu.
“Kejanggalannya, kenapa hasil otopsi diserahkan dulu ke pihak kampus, sedangkan keluarga saja belum menerima,” katanya.
Ia menjelaskan juga, menurut hasil rekonstruksi kematian David yang dilakukan tim verifikasi, keluarga, dan media dari Indonesia menunjukkan, David itu meninggal karena dibunuh. “Bisa dilihat dari posisi pisau itu jatuhnya 150 meter dari David dan satu lantai di bawah tempat David jatuh, ini menjadi kejanggalan tersendiri,” tegasnya.
Selain itu, bercak darah justru ditemukan di sekitar tempat Profesor Chan Kap Luk, bukan di tempat David menuju jembatan tempat ia menjatuhkan diri. “Jadi, ada dugaan David sempat melakukan pembelaan diri melalui letak bercak darah itu,” jelasnya.
Iwan menjelaskan melalui foto-foto seorang wartawan koran Singapura, Strait Times, rekonstruksi itu dilakukan didampingi oleh intelijen dari KBRI. “Pihak intelijen juga menduga kuat, David 99 persen dibunuh, terutama dengan kejanggalan-kejanggalan, pihak keluarga tak boleh bertemu Presiden NTU dan Profesor Chan Kap Luk apalagi media massa Singapura,” ujar Iwan.
Proses rekonstruksi dan mengumpulkan sejumlah bukti termasuk menemui Profesor Chan Kap Luk dan Presiden NTU Su Guaning juga sudah dilakukan. Selama sepekan, mereka melakukan investigasi independen termasuk mewawancarai sejumlah teman dekat David yang memberi keterangan berbeda-beda.
Sementara itu, menurut ibu David, Lie Khiun, David tak pernah memegang pisau sejak kecil. “Ia tak pernah memasak apapun dengan pisau, kalau makan buah, ia memilih membeli jus daripada mengupas buah. Maka saya tak percaya kalau ia bisa memegang pisau, apalagi menusuk profesor,” kata ibu David dengan mata berkaca-kaca.
Dari keterangan ibu David, menurut Iwan, semakin memperkuat dugaan bahwa David itu memang telah dibunuh.
Sebelumnya diberitakan oleh media massa Singapura bahwa David yang mendapat beasiswa sekolah di NTU diduga akan membunuh profesornya, Chan Kap Luk, dan bunuh diri. Keterangan ini didapat dari Presiden NTU Su Guaning yang dilansir hampir semua media di Singapura. Padahal, proses penyidikan oleh pihak Kepolisian Singapura belum selesai dan belum ada bukti mengarah ke pernyataan Presiden NTU tersebut.
Wkwkwk… semua anak SMAK 1 berpikir 2 kali sebelum memutuskan masuk NTU jurusan teknik.
David itu anak SMAK 1 lo…

David Hartanto Widjaja, lulusan SMAK I Penabur (ya, SMA saya), mahasiswa NTU yang MENIKAM profesornya. David itu anak IMO 2005, bisa dibilang kebanggaan sekolah tercinta. Dan yang dia serang itu seorang profesor terkemuka di NTU, pemilihan target yang tepat.
Oh oh oh… saya sungguh senang wajahnya dipasang di lobby SMAK 1. (evil grin)
Pikiran yang mungkin muncul setelah mendengar berita penyerangan dosen:
-Universitas macam apa yang membuat seorang mahasiswa nekat begitu?
-SMA macam apa yang mendidik siswa macam itu?
Hahahaha…
Tapi ini memang kasus yang aneh. Pasalnya, David itu meskipun cerdas, tetapi bukan termasuk nerd (kutu buku), dan dia cukup dikenal sebagai anak yang aktif dan “penceria kelas”. Tidak ada sedikitpun dugaan anak ini bisa melakukan penyerangan.
Dan mungkin ini cuma perasaan saya, tapi apakah anda menyadari sesuatu? Beberapa waktu lalu MIT diserang, kemudian sekarang NTU. 2 universitas terkemuka. Bagaimana menurut anda?
Update 5 Maret 2009
Makin lama makin misterius aja. Anda sudah mendengar kabar bahwa tidak ada luka sayatan di tangan David ? Dan yang lebih membuat puzzle ini semakin rumit adalah ada luka sayatan di leher David, luka yang tidak mungkin dibuat sendiri. Wow, dengan adanya fakta ini, maka semua kabar-kabar di media-media Singapura sudah memberitakan kabar bohong. Ada apa ini?
Update 8 Maret 2009
Ada link yang bagus sekali bagi orang-orang Indonesia yang merasa kematian David ini aneh dan harus diselidiki. Ini linknya: here . Saya sungguh menyarankan anda untuk ke sana untuk informasi yang lebih kontroversial.
“Most murders are crimes of necessity rather than desire.”
-Garland Green~[Con Air]-
Selamat Jalan, Kartika!
Hari ini saya baru saja mendengar kabar kepergian seorang teman saya, dari seorang sahabat saya. Tentu saja bukan pergi dalam arti meninggal, tetapi pergi dalam arti sebenarnya. Menurut kabar, ia berangkat ke Amerika pada hari awal liburan dan tidak akan kembali ke Jakarta.
Saya mencoba untuk mengenangnya.
Tien Kartika, seorang siswi SMAK 1 yang menjadi teman saya. Ia adalah anggota Klub Biologi yang cemerlang, salah satu orang yang dikirim ke Makassar tahun ini (lihat post sebelumnya). Sebagai seorang siswi, prestasinya sangat bisa dibanggakan. Bahkan saya kadang iri melihat keberhasilnnya di semua bidang pelajaran.
Ketika pertama bertemu, kesan yang ia berikan hanya seperti wanita umumnya. Tubuhnya biasa saja, tidak sexy atau semacamnya. Tinggi badannya rata-rata (tidak seperti Vinnie yang seperti model). Rambutnya panjang, tetapi nampaknya tidak terawat. Tetapi setelah ia mengganti gaya rambutnya, ia menjadi cantiiik (atau mungkin hanya di mata saya). Iguess I got a crush on her. Mungkin ga sich wajah berubah karena gaya rambut berubah? Atau mata saya yang rusak. Sayang, ia sudah memiliki pacar (kalau tidak salah nama pacar dia Denny O) Ya, kembali ke topik!
Semua orang hanya bisa melihat sisi luar dari Kartika. Kartika yang centil, Kartika yang ceria, Kartika yang blak-blakan, Kartika yang mandiri. Tetapi mungkin hanya saya yang melihatnya dengan kacamata berbeda. Saat saya melihat Kartika, yang saya lihat adalah seorang gadis yang kesepian karena tinggal jauh dari orangtuanya, seorang gadis yang menginginkan perhatian, seorang gadis yang tidak mempercayai teman-temannya, seorang gadis yang tidak suka kalah, seorang gadis yang ingin sekali menangis dalam kesedihannya tetapi memaksakan diri untuk tegar dan tersenyum ceria sehingga tidak ada orang yang mengetahui kesedihannya, seorang gadis yang tidak ingin dilihat sebagai orang yang lemah. Saya melihat semua itu melalui mata dia.
Mungkin saya salah… atau mungkin saya benar… saya tidak tahu.
Kartika, apakah kamu seperti itu?
Selamat jalan, Kartika !
Selamat tinggal !
Mungkin kita tidak akan bertemu lagi…
Aku tidak akan melupakanmu, jadi jangan lupakan aku…
Au revoir, ami ! Adios, amigos ! Ciao, amico !