Matilah kau, Chan Kap Luk! Wkwkwk..

April 13, 2009 at 9:15 pm (Kontroversi? Kontroversi! Kontroversi....) (, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , )

JAKARTA, KOMPAS.com — Tim verifikasi independen menemukan dugaan kuat bahwa David Hartanto Widjaja, mahasiswa Indonesia yang meninggal di Singapura, tewas dibunuh. Tim yang diketuai blogger Iwan Piliang ini menyimpulkan hal itu dari hasil rekonstruksi tim, bukti-bukti tertulis, dan hasil otopsi yang diterima pihak keluarga.

“Hasil otopsi membuktikan bahwa ditemukan 36 luka, 14 di antaranya luka karena pisau, umumnya di bagian tangan, sisanya luka memar termasuk di bagian leher dan luka dalam,” jelas Iwan Piliang kepada wartawan saat jumpa pers di restoran Munik, Matraman, Jakarta, Senin (13/4).

Iwan menjelaskan, hasil otopsi dari pihak kepolisian justru diberikan kepada pihak kampus Nanyang Technology University (NTU) sebelum diberikan kepada keluarga. Padahal, seharusnya hasil otopsi pihak Kepolisian Singapura diberikan kepada pihak keluarga melalui KBRI di Singapura. Hasil otopsi memang sudah dikirimkan kepada pihak keluarga melalui kiriman paket 3 April lalu.

“Kejanggalannya, kenapa hasil otopsi diserahkan dulu ke pihak kampus, sedangkan keluarga saja belum menerima,” katanya.

Ia menjelaskan juga, menurut hasil rekonstruksi kematian David yang dilakukan tim verifikasi, keluarga, dan media dari Indonesia menunjukkan, David itu meninggal karena dibunuh. “Bisa dilihat dari posisi pisau itu jatuhnya 150 meter dari David dan satu lantai di bawah tempat David jatuh, ini menjadi kejanggalan tersendiri,” tegasnya.

Selain itu, bercak darah justru ditemukan di sekitar tempat Profesor Chan Kap Luk, bukan di tempat David menuju jembatan tempat ia menjatuhkan diri. “Jadi, ada dugaan David sempat melakukan pembelaan diri melalui letak bercak darah itu,” jelasnya.

Iwan menjelaskan melalui foto-foto seorang wartawan koran Singapura, Strait Times, rekonstruksi itu dilakukan didampingi oleh intelijen dari KBRI. “Pihak intelijen juga menduga kuat, David 99 persen dibunuh, terutama dengan kejanggalan-kejanggalan, pihak keluarga tak boleh bertemu Presiden NTU dan Profesor Chan Kap Luk apalagi media massa Singapura,” ujar Iwan.

Proses rekonstruksi dan mengumpulkan sejumlah bukti termasuk menemui Profesor Chan Kap Luk dan Presiden NTU Su Guaning juga sudah dilakukan. Selama sepekan, mereka melakukan investigasi independen termasuk mewawancarai sejumlah teman dekat David yang memberi keterangan berbeda-beda.

Sementara itu, menurut ibu David, Lie Khiun, David tak pernah memegang pisau sejak kecil. “Ia tak pernah memasak apapun dengan pisau, kalau makan buah, ia memilih membeli jus daripada mengupas buah. Maka saya tak percaya kalau ia bisa memegang pisau, apalagi menusuk profesor,” kata ibu David dengan mata berkaca-kaca.

Dari keterangan ibu David, menurut Iwan, semakin memperkuat dugaan bahwa David itu memang telah dibunuh.

Sebelumnya diberitakan oleh media massa Singapura bahwa David yang mendapat beasiswa sekolah di NTU diduga akan membunuh profesornya, Chan Kap Luk, dan bunuh diri. Keterangan ini didapat dari Presiden NTU Su Guaning yang dilansir hampir semua media di Singapura. Padahal, proses penyidikan oleh pihak Kepolisian Singapura belum selesai dan belum ada bukti mengarah ke pernyataan Presiden NTU tersebut.

link

Wkwkwk… semua anak SMAK 1 berpikir 2 kali sebelum memutuskan masuk NTU jurusan teknik.

Permalink Leave a Comment

Switch off the lights!!!

March 28, 2009 at 1:58 am (Uncategorized) (, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , )

3292815218_56a050da8d_o

Baru sekitar 2 minggu lalu gw mengetahui yang namanya Earth Hour (maklum, agak ketinggalan berita) yang sudah dilaksanakan sejak 2007, dari temen-temen gw.

Apa sih Earth Hour itu?

link (Indonesia)

link (Internasional)

 Earth Hour intinya adalah sebuah gerakan memberikan setidaknya satu jam demi Bumi kita ini dengan cara menghentikan pemakaian tenaga listrik, sebagai sebuah proses menyadarkan seluruh dunia akan Bumi dan reservasi energi.

Dan Vote for Earth adalah sebuah ajakan untuk memberitahu dunia bahwa Bumi memerlukan pertolongan sekarang juga, dengan berbagai cara yang ada. Anda bisa melihat foto-foto hasil Vote for Earth yang telah dikumpulkan di sini.

So, guys! Berpartisipasilah dalam program ini !

Ikutlah Vote for Earth dengan cara membuat foto, video, blog, lagu, atau mungkin hanya tulisan-tulisan kecil, atau bahkan hanya sekedar shoutout dan mempublikasikannya di media (boleh Youtube, Facebook, Friendster,dll) sehingga semua orang bisa melihatnya.

Atau itu masih terlalu berat? Kalu begitu setidaknya ikutilah program Earth Hour yang akan dilaksanakan hari Sabtu, 28 Maret 2009, tepat jam 20.30 (dimanapun kalian berada), matikanlah semua lampu kalian selama satu jam sampai jam 21.30!

Ingat, satu jam demi bumi!

Satu jam!


Ini bukanlah lagi sebuah event, ini adalah sebuah movement!

Bergabunglah, demi Bumi!

Permalink Leave a Comment

Kamera Infrared Ujung Kulon

March 6, 2009 at 10:43 pm (Uncategorized) (, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , )

Telah diberitakan bahwa kamera infrared WWF yang dipasang secara tersembunyi di Taman Nasional Ujung Kulon mendapatkan gambar tiga ekor badak Jawa (pejantan, betina, dan seekor anak badak). Potongan video yang dikeluarkan menunjukkan sebuah perilaku unik dimana badak-badak itu berkubang di kubangan-kubangan berbeda. 

Badak Jawa adalah salah satu jenis mamalia yang berada di ambang kepunahan. Hanya 60 individu diperkirakan masih hidup sampai saat ini.

Badak Jawa (atau juga dikenal dengan Badak Bercula Satu) adalah hewan yang sangat pemalu. Setelah 20 tahun mengawasi daerah Ujung Kulon, hanya 2 sampai 3 kali agen WWF berhasil melihat badak dengan cula terkecil dari semua badak ini dengan mata sendiri. Dan hanya 9 individu berhasil ditangkap oleh kamera Infrared yang baru saja dipasang selama satu bulan.

Setelah mendengar kabar ini, ahli-ahli Rhino segera berkumpul di Indonesia untuk membahas langkah yang akan diambil karena populasi Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon mengalami stagnansi yang membahayakan. Ditambah lagi, populasi Badak Jawa di Taman Nasional Cat Tien (Vietnam) diperkirakan tidak akan mengalami pertambahan sama sekali.

Badak Jawa pernah menjadi badak dengan persebaran paling luas di Asia, tetapi sekarang ia berstatus sangat kritis dan hanya bisa ditemukan di taman nasional. Penelitian untuk mengumpulkan pengukuran akurat badak Jawa tidak pernah dilakukan dan bukan prioritas (saat dilakukan penelitian, populasi sudah berada pada titik kritis). Karena resiko mengganggu spesies terancam, badak Jawa dipelajari melalui sampel kotoran dan kamera. Mereka sangat jarang ditemui, diamati atau diukur secara langsung.

Alasan utama menciutnya populasi Badak Jawa adalah perburuan yang dilakukan manusia. Badak Jawa pernah diburu secara besar-besaran oleh manusia karena harga culanya yang sangat mahal.

Kerakusan yang membuat terancamnya kelangsungan suatu spesies. Kesalahan yang sangat sulit untuk diperbaiki.

Kapan manusia akan jera?

Permalink Leave a Comment

Next page »