Surat ga berani dikirim

July 2, 2008 at 9:55 am (Artikel-artikel iseng) (, , , , , , , )

Surat Kaleng MO!!
Pesan: Jakarta, 28 Ferbuari 2008
Kepada
Yth Kepala Sekolah SMAK 1 BPK PENABUR
Jalan Tanjung Duren Raya 4
Jakarta Barat

Dengan hormat,
Saya sebagai murid dari XIA mau memberi pertanyaan kepada anda sebagai kepala sekolah dan mantan guru SMAK 1 BPK PENABUR, sebenarnya apakah fungsi guru di sekolah kita ini?
Apakah guru di sekolah yang dibanggakan oleh banyak orang ini hanyalah bertugas untuk menerangkan secara sangat general atau mendasar, lalu mengajak murid untuk maju ke depan dan membuat soal yang telah dijadikan pekerjaan rumah dan tidak menerangkannya kembali dengan jelas?
Lalu dengan mudahnya membuat soal ulangan dengan tipe yang sangat berbeda dan dengan banyak jumlahnya, tidak memikirkan waktu yang membatasi. Apakah efisien untuk guru memeriksa pekerjaan rumah siswa-siswi perorangan sewaktu proses belajar mengajar berlangsung, membuat berkurangnya setengah jam dari proses itu sendiri? Apakah berguna apabila sang guru menceritakan kehidupannya sendiri atau becerita tentang pertandingan bola sewaktu proses belajar mengajar masih berlangsung? Apakah menyuruh murid ( sesuai tanggal atau skor bola terkini yang sesuai dengan nomor absen murid ) untuk maju mengerjakan soal bukan dilihat dari kemampuan dan perkembangan si murid itu sendiri adalah sesuatu yang layak? Apakah menjadi seorang yang tidak higienis ( bermuncratan saliva-nya sewaktu berbicara, bermulut bau, berketombe banyak, berbau badan ) adalah sesuatu yang penting dalam hal pengajaran? Apakah dibenarkan dalam pengguruan untuk mengancam murid untuk mengurangi nilai, sewaktu guru tersebut merasa dipojokkan? Apakah layak bagi seorang guru untuk berlambat-lambat masuk ke kelas, padahal seharusnya ulangan telah dimulai? Apakah benar seorang guru mengajar dengan sangat berbedanya di kelas yang berbeda-beda, dengan menerangkan sesuatu sampai selesai di kelas satu sehingga semua murid mengerti dan tidak menerangkan bagian tersebut di kelas lain? Apakah layak apabila seorang guru menilai berdasarkan diri sendiri ( semaunya
saja, tanpa standar tertentu ) dengan membedakan nilai untuk seorang siswi dan seorang siswa? Apakah dibenarkan untuk seorang guru wakil mengancam seperti,
“Lu dari tadi, Gw Lempar juga lu!!” kepada salah satu muridnya, hanya karena dia tidak menghapus papan? Apakah benar seorang guru menyuruh muridnya untuk menggosokkan lap yang telah terkontaminasi ke tangannya sendiri, hanya karena murid tersebut tidak membawa lap untuk praktikum dan harus meminjammnya kepada seorang ‘cleaning service’. Apakah menurut anda seorang guru berkemampuan untuk mengajar apabila ulangan ulang yang diberikan kepada murid hanya meloloskan 5 murid daripada 32 murid di suatu kelas? Apakah benar apabila seorang guru tadi tidak memberikan ulangan ulang , bahkan remedial ulang untuk kelas tersebut?

PS: Sekolah brengsek!!!!

5 Comments

  1. Ciputra Linardy said,

    Gw, sebagai alumni SMAK 1, menyatakan gw sangat BANGGA punya junior seperti u! Gw sangat setuju dengan tiap2 pernyataan dan kalimat di artikel ini. Artikel ini merupakan salah satu artikel favorit gw. Keep up the good work.

  2. dayswithoutlove said,

    hy,,,brooo,,,,Sebagai salah satU Pasukan Blogger yg berjaketkan jaket kitam motor yang ada lambang burung merpati ama salibnya(SMUKIE),,,gw cukup “kaguM” sama Tulisan u,,,

    Realita semua tertulis,,,tapi,,,kita mu berkata apa???hehehhe,,,,

    • budeg said,

      kita mau berkata,”WOI, ngajak ribut lu ?!”
      Hehe..
      Join kesatuan u dong, bro.

  3. cs_1912 said,

    ah… memang menyusahkan kok…

Post a Comment